>>> Biaya Ballroom Gedung Putih Membengkak Jadi Rp 10,6 Triliun
Ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan di kalangan muda ini terus menjadi kendala serius bagi kesejahteraan personal sekaligus produktivitas nasional.
Ancaman Terhadap Produktivitas Nasional
Yusuf Rendy Manilet, Peneliti Ekonomi di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, berpendapat bahwa masalah ini sudah bergeser menjadi persoalan produktivitas nasional.
"Ketika jutaan lulusan pendidikan tinggi tidak terserap pada pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya, ekonomi kehilangan potensi output yang seharusnya dapat dihasilkan oleh tenaga kerja tersebut," ucap Yusuf.
Yusuf menilai potensi kerugian ekonomi dihitung dengan membandingkan produktivitas pekerja sesuai kualifikasi terhadap pekerja yang menganggur atau bekerja di bawah keahliannya.
Secara sederhana, kerugian timbul dari selisih produktivitas saat lulusan perguruan tinggi gagal memanfaatkan kompetensinya karena menganggur atau salah penempatan kerja.
Secara agregat, nominal kerugian dihitung dengan mengalikan total tenaga kerja yang mengalami mismatch dengan rata-rata produktivitas sektor formal yang sesuai.
"Dampaknya tidak hanya berupa hilangnya output saat ini, tetapi juga hilangnya akumulasi keterampilan, inovasi, dan pendapatan yang seharusnya tercipta dalam jangka panjang," terang Yusuf.
Yusuf memproyeksikan masalah ketidaksesuaian keterampilan yang masif ini akan memperlambat langkah Indonesia untuk keluar dari middle income trap.
"Bonus demografi hanya akan menjadi mesin pertumbuhan apabila penduduk usia produktif mampu bekerja pada sektor yang menghasilkan produktivitas tinggi," ucap Yusuf.
Penumpukan tenaga kerja terdidik di sektor berproduktivitas rendah atau sektor pengangguran akan membalikkan bonus demografi menjadi beban demografi.
Negara dirugikan karena kehilangan momentum peningkatan produktivitas, sementara investasi pendidikan dari pemerintah maupun rumah tangga tidak memberikan imbal balik optimal.
"Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan ekonomi cenderung tertahan pada level menengah dan sulit melakukan lompatan menuju negara berpendapatan tinggi," tutur Yusuf.
Dampak Finansial Tidak Langsung
Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, ikut memaparkan metode umum untuk mengukur dampak fenomena ini terhadap perekonomian.
Langkah paling jamak dilakukan adalah menghitung selisih antara upah normatif sesuai tingkat pendidikan dengan upah aktual yang diterima pekerja di bidang lain.