Secara tahunan, angka ini mencatat pertumbuhan 1,9 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan Maret 2026 yang sebesar 1,0 persen.
Dari total tersebut, utang luar negeri pemerintah tercatat 216,4 miliar dolar AS, tumbuh 3,7 persen secara tahunan.
Sementara ULN sektor swasta bernilai 193,2 miliar dolar AS, mengalami kontraksi 0,7 persen.
Menurut BI, pertumbuhan ULN pemerintah dipengaruhi oleh posisi pinjaman luar negeri yang melambat. Namun, aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatat arus masuk bersih.
Selain dolar AS, komposisi ULN Indonesia tersebar ke berbagai mata uang dunia.
Hingga April 2026, posisi utang dalam euro sebesar 40,68 miliar dolar AS, yen Jepang 18,98 miliar dolar AS, yuan China 17,24 miliar dolar AS, SDR 8,95 miliar dolar AS, dan rupiah 81,58 miliar dolar AS.
Struktur Utang Tetap Sehat
Bank Indonesia menegaskan kondisi struktur ULN Indonesia tetap sehat. Rasio ULN terhadap PDB bergerak stabil di angka 29,6 persen pada April 2026.
Struktur utang didominasi profil jangka panjang yang mencakup 84,5 persen dari total ULN. ULN pemerintah bahkan 99,99 persen berupa kewajiban jangka panjang.
Pemanfaatan ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung sektor produktif, antara lain Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen), Administrasi Pemerintah (20,5 persen), Jasa Pendidikan (16,2 persen), Konstruksi (11,5 persen), serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen).
Di sisi swasta, sektor keuangan masih terkontraksi 5 persen secara tahunan. Namun, struktur utang swasta didominasi kewajiban jangka panjang sebesar 75,8 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa BI bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi untuk menjaga struktur ULN tetap sehat.
>>> Juventus Bidik Eljif Elmas dari RB Leipzig di Bursa Transfer
Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.