Menurut pihak asosiasi, akumulasi premi yang masuk tidak sebanding dengan pertumbuhan nilai klaim yang harus dibayarkan.
"Jadi ini memang bukan karena klaim yang besar, tapi juga kembali lagi, kecukupan klaimnya dibanding klaim yang terjadi tidak in line," terang Budi Herawan.
Meski rute internasional terganggu, aktivitas pengiriman barang di dalam negeri dilaporkan masih aman.
Asosiasi memastikan bahwa risiko pengapalan domestik tetap dapat dikendalikan dengan baik oleh perusahaan asuransi.
"Kalau yang antar pulau yang insurance-nya di Indonesia, angka-angkanya masih terkontrol dengan baik," ujar Budi Herawan.
Fluktuasi perolehan premi asuransi pengangkutan barang akan bergantung pada pemulihan rantai pasok setiap sektor usaha.
Gangguan di Selat Hormuz diidentifikasi sebagai satu-satunya pemicu utama penurunan kinerja lini bisnis ini.
"Ini adalah satu-satunya dampak dari Selat Hormuz," ungkap Budi Herawan.
Asosiasi mengharapkan adanya perbaikan kinerja pendapatan premi dari lini bisnis asuransi pengangkutan barang dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Wakil Ketua AAUI untuk Bidang Statistik, Riset, dan Analisis Heri Supriyadi membenarkan bahwa penurunan ini linear dengan menyusutnya aktivitas logistik.
"Tapi itu memang karena jumlah pengiriman yang ada," ucap Heri Supriyadi.
>>> Garmin Luncurkan Forerunner 70 dan Forerunner 170 untuk Pelari Pemula dan Menengah
Penurunan volume pengiriman barang secara otomatis memangkas pendapatan premi perusahaan asuransi nasional yang beroperasi di sektor marine cargo.