>>> Portugal vs RD Congo Buka Piala Dunia 2026 di Grup K
Pihak bank juga terus memantau pelemahan mata uang yen dengan cermat.
Sebelum absen, Gubernur Kazuo Ueda sempat menyampaikan pandangan positifnya terkait kenaikan suku bunga ini pada awal bulan.
"Even if the situation remains unclear, should it be judged that upside risks to prices outweigh downside risks to economic activity, it will be necessary to thoroughly discuss the pros and cons of raising the policy interest rate," ujar Ueda.
Meskipun situasi global belum menentu, para pembuat kebijakan di Bank of Japan menilai risiko inflasi mendasar yang menyimpang di atas target harga tetap ada.
Hal ini karena ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang terus meningkat.
Respons Pasar dan Pengamat
Pengamat ekonomi Jepang, Jesper Koll, menilai bahwa Jepang kini telah memasuki siklus inflasi setelah mengalami deflasi selama dua puluh tahun.
"Emergency/crisis management monetary policy is no longer needed and the BOJ wants to get back to a normal monetary policy," kata Koll.
Langkah pengetatan moneter ini juga disoroti oleh akademisi dari University of California San Diego, Ulrike Schaede, yang melihat adanya pandangan bahwa mata uang yen saat ini sudah terlalu murah.
"There has been a sense that the yen is too cheap and that raising its currency will not hurt," kata Schaede.
Menurut Schaede, kebijakan yang diambil oleh Bank of Japan ini dapat menjadi petunjuk penting bagi pergeseran situasi finansial internasional.
"But what we are seeing could signal a slow global realignment," kata Schaede.
Di pasar saham, indeks acuan Nikkei 225 di Tokyo sempat melesat melewati angka 70.000 pada Selasa pagi sebelum akhirnya melepaskan sebagian penguatan dan ditutup naik 0,1 persen.
>>> RD Kongo Hadapi Kendala Suporter Jelang Laga Perdana Piala Dunia 2026
Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang dikenal mendukung peningkatan pengeluaran negara, hingga kini belum melayangkan kritik terbuka terhadap langkah pengetatan yang diambil oleh Bank of Japan tersebut.