⌂ Beranda News Mengapa Harga BBM di Indonesia Kerap Naik Turun? Ini Faktor Penentunya

Mengapa Harga BBM di Indonesia Kerap Naik Turun? Ini Faktor Penentunya

Mengapa Harga BBM di Indonesia Kerap Naik Turun? Ini Faktor Penentunya
Ilustrasi harga BBM di Indonesia dipengaruhi berbagai faktor
A A Ukuran Teks16px

Hal itu membuat Pertamax sempat menjadi satu-satunya BBM nonsubsidi yang tidak mengalami kenaikan harga, sebelum akhirnya naik menjadi Rp 16.250 per liter.

Mengapa harga BBM subsidi bisa berbeda? Perbedaan paling mendasar antara BBM subsidi dan nonsubsidi terletak pada campur tangan pemerintah.

Harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak selalu mengikuti pergerakan harga minyak dunia maupun kurs rupiah karena pemerintah memberikan subsidi dan mempertimbangkan kondisi fiskal negara.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, meskipun rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 mencapai 117,31 dollar AS per barrel, harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan.

Ia menjelaskan, rata-rata ICP sejak Januari 2026 masih berada di kisaran 80 hingga 81 dollar AS per barrel.

Pemerintah juga pernah menjelaskan, subsidi BBM dihitung berdasarkan selisih antara harga jual eceran dengan harga patokan yang dihitung dari MOPS, biaya distribusi, dan margin.

Dengan mekanisme tersebut, kenaikan biaya penyediaan BBM tidak selalu langsung diteruskan kepada konsumen.

Dengan demikian, harga BBM di Indonesia merupakan hasil interaksi berbagai faktor, mulai dari harga minyak dunia, harga produk BBM di pasar Singapura, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, hingga kebijakan subsidi pemerintah.

>>> Kementerian ESDM Uji Coba BBM Bioetanol E20 Bersama Gaikindo

Karena banyaknya variabel yang memengaruhi, pergerakan harga BBM di SPBU tidak selalu sejalan dan tidak selalu berlangsung secepat perubahan harga minyak di pasar global.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru