Faktor penentu utama dalam normalisasi lalu lintas kapal tanker di selat tersebut kini berada pada kebijakan politik Iran.
"Saya rasa pertanyaan kuncinya adalah, apakah ada kemauan di Iran untuk melihat peningkatan aliran dana?" kata dia.
Kesepakatan Damai dan Ketidakpastian
Peluang terbukanya kembali jalur pelayaran menguat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani dokumen fisik kesepakatan damai awal pada Rabu (17/6/2026).
>>> Cara Hindari Pajak Progresif Motor Bekas dengan Balik Nama
Melalui perjanjian pendahuluan tersebut, Iran sepakat membuka Selat Hormuz, sementara AS berkomitmen mencabut seluruh sanksi serta mengucurkan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS.
Kendati demikian, pihak Goldman Sachs mengingatkan bahwa tingkat ketidakpastian di pasar minyak masih sangat tinggi.
"Namun secara keseluruhan masih cenderung ke arah positif, karena belum tentu selat itu akan terbuka sepenuhnya.
Belum tentu, bahkan jika terbuka sepenuhnya, selat itu akan tetap terbuka," tutur Struyven.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mulai meningkat meski masih berada di bawah volume sebelum perang.
Berdasarkan data Bloomberg, arus pengiriman yang terdeteksi langsung mencapai 1,3 juta barel per hari, ditambah 1,6 juta barel per hari dari Teluk Oman melalui kapal yang mematikan sistem geolokasi untuk menghindari militer Iran.
Kondisi ini menunjukkan perdagangan mulai bergerak, namun produsen kini lebih nyaman menggunakan jalur alternatif yang minim risiko geopolitik.
Arab Saudi menjadi negara paling agresif dengan mengalirkan rata-rata 7,5 juta barel minyak per hari melalui East-West Pipeline menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Langkah serupa diambil Uni Emirat Arab (UEA) yang telah keluar dari OPEC untuk mendongkrak kapasitas produksi serta membangun jaringan pipa baru tahun depan.
Sementara itu, Irak tengah mengkaji peningkatan aliran minyak secara signifikan lewat jaringan pipa menuju Turki.
Goldman Sachs mengingatkan adanya skenario terburuk jika pembukaan selat berjalan lambat atau terhambat secara permanen.
"Kami menjabarkan skenario kenaikan harga di mana ekspor dari Teluk hanya pulih secara bertahap dan Selat Hormuz tidak pernah sepenuhnya dibuka kembali," sebut dia.
Jika skenario tersebut terjadi, harga minyak jenis Brent diperkirakan dapat menembus angka 130 dolar AS per barel pada akhir tahun.
"Masa depan mungkin akan ditandai dengan gangguan pasokan yang lebih sering dan besar di dunia yang sangat terfragmentasi, di mana AS dan China bersaing untuk kekuasaan geopolitik, dominasi AI, dan dominasi komoditas," ujar dia.
>>> iCAR Indonesia Luncurkan SUV Listrik V23 dengan Tiga Varian
"Namun, ini juga bisa menjadi dunia di mana kita akan terkejut dengan kemampuan untuk mengatasi gangguan pasokan tersebut," sebut dia.