"Risikonya berkisar dari ancaman ranjau hingga kemungkinan kapal terjebak di Teluk Timur Tengah jika ketegangan kembali meningkat dan Iran kembali menutup Hormuz," tulis perusahaan pialang kapal Braemar dalam catatannya kepada Reuters.
Pihak pialang maritim tersebut juga menyoroti adanya klausul kepemimpinan wilayah laut yang dapat memengaruhi biaya logistik masa depan.
"Kesepakatan ini juga membuka kemungkinan Iran mengenakan biaya untuk pengelolaan transit Selat Hormuz setelah 60 hari," imbuhnya.
Faktor pemulihan aktivitas pelayaran dan operasional produsen minyak regional seperti Kuwait Petroleum Corp dan ADNOC dipandang telah meredakan kepanikan ekstrem di pasar energi.
"Fokus pasar kini beralih pada apakah pembukaan kembali jalur pelayaran benar-benar berjalan lancar.
>>> MK Tolak Gugatan Aturan Nafkah dalam UU Perkawinan
Banyak perusahaan pelayaran besar masih belum kembali melintas dan premi asuransi tetap tinggi, menunjukkan pasar masih berhati-hati terhadap kecepatan normalisasi situasi," kata Lacerda.