Selain itu, normalisasi jalur pelayaran juga berpotensi menurunkan biaya angkut atau freight rate sehingga memberikan dampak langsung terhadap penurunan biaya produksi.
“Ketika Hormuz normal dan pasokan sulfur dari Timur Tengah kembali lancar, maka harga sulfur global berpotensi melandai secara signifikan.
Ditambah dengan penurunan freight rate, maka penurunan cost of goods sold akan terasa nyata bagi smelter HPAL,” pungkas dia.
Keadaan tersebut diyakini berdampak baik terhadap margin emiten nikel di Indonesia.
Namun, normalisasi tersebut tidak serta-merta membuat margin keuntungan melonjak tajam.
Nafan mencatat, perdamaian dan meredanya ketegangan geopolitik akan mengurangi geopolitical risk premium pada harga nikel dunia.
Kondisi ini berpotensi membuat harga nikel terkoreksi dalam jangka pendek.
Meski demikian, penurunan biaya sulfur dan logistik dapat membantu menjaga margin laba kotor emiten agar tidak tergerus terlalu dalam akibat pelemahan harga jual.
“Jadi alih-alih mendorong margin ke langit, normalisasi ini lebih berfungsi menjaga stabilitas margin dari tekanan penurunan harga jual,” katanya.
Emiten HPAL Paling Diuntungkan
Normalisasi harga sulfur tidak berdampak sama bagi seluruh emiten nikel.
Perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap teknologi HPAL akan memperoleh manfaat yang lebih besar.
Sebaliknya, emiten yang berfokus pada teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) diperkirakan tidak akan merasakan manfaat sebesar itu.
Pasalnya, proses RKEF yang menghasilkan feronikel atau Nickel Pig Iron (NPI) untuk industri baja tahan karat lebih bergantung pada konsumsi energi berbasis batu bara.
>>> PDIP Tegaskan Posisi Penyeimbang Bukan Sikap Abu-Abu
Dengan demikian, struktur biaya operasional smelter RKEF cenderung lebih sensitif terhadap pergerakan harga batu bara dibandingkan harga sulfur.
Penurunan harga sulfur akan lebih menguntungkan emiten berbasis HPAL dibandingkan emiten yang mengandalkan jalur RKEF.
“Dampak dari normalisasi sulfur ini tidak merata, emiten yang memiliki porsi exposure besar ke jalur HPAL akan jauh lebih diuntungkan ketimbang emiten yang murni bermain di jalur RKEF yang menghasilkan feronikel atau NPI untuk industri baja anti karat karena RKEF lebih sensitif terhadap biaya batu bara ketimbang sulfur,” tukas Nafan.