Sementara itu, keseimbangan primer Indonesia mencatat surplus disertai dengan neraca perdagangan yang positif.
Namun, kinerja fiskal tersebut dinilai belum mampu mendorong kinerja kebijakan moneter.
"Kebijakan fiskal yang berjalan baik seolah dinegasikan oleh kebijakan moneter. Seharusnya keduanya bergerak searah," ucap dia.
>>> LPDP dan Kemenag Buka Pendaftaran Riset MoRA the AIR Funds 2026
Selain kebijakan suku bunga, Gede juga menyoroti faktor dedolarisasi yang dilakukan dengan memperluas Local Currency Transaction (LCT) dan penggunaan QRIS antarnegara demi mengurangi ketergantungan pada dollar AS.
Langkah ini dinilai turut memengaruhi persepsi investor global.
Manuver ini membuat para pemilik modal raksasa dari Amerika Serikat gerah.
Dalam tingkat ekonomi global, melemahnya dominasi petrodollar dan meningkatnya penggunaan mata uang lokal oleh negara BRICS mendorong AS untuk menaikkan suku bunga acuan.
Hal ini lantas juga memicu penarikan modal dari seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia.
Belajar dari Brasil
Gede meyakini Indonesia memiliki peluang menjaga stabilitas nilai tukar ketika kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras.
Regulator di Indonesia dapat meniru empat langkah kebijakan pemerintahan Presiden Brazil Lula da Silva pada 2002-2003 untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
Pertama, regulator perlu menjaga target surplus keseimbangan primer yang tinggi.
Selanjutnya regulator perlu melakukan reformasi anggaran dan efisiensi program.
Indonesia juga harus mengurangi ketergantungan dollar AS sebagai solusi stabilitas jangka panjang.
Terakhir, Indonesia perlu menerapkan komitmen pengetatan anggaran (austerity).
"Dengan empat langkah ini, akhirnya Brasil pada 2002 lolos. Begitu persepsi pasar membaik, kurs menguat, inflasi turun, barulah kemudian Bank Sentral Brazil menaikkan suku bunga.
Tidak ada masalah setelah itu," tutup Gede.
Berdasarkan pantauan Kompas.
com, hingga pukul 13.26 WIB nilai tukar rupiah di pasar spot tercatat berada di level Rp 18.195 per dollar AS.
>>> IHSG Anjlok 2,87 Persen di Penutupan Sesi Pertama 8 Juni 2026
Angka tersebut melemah 159 poin setara 0,88 persen dibandingkan dengan pembukaannya hari ini.