Kala itu, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting menjaga kepercayaan investor.
Ia yakin, jika rupiah terus melemah, dampaknya akan terasa pada harga kebutuhan pokok yang bergantung pada bahan baku impor, seperti kedelai untuk tempe dan tahu.
Ketika rupiah melemah, biaya impor akan meningkat sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Kenaikan harga tidak hanya berpotensi terjadi pada produk berbahan baku kedelai, tetapi juga pada komoditas dan barang lain yang memiliki komponen impor dalam rantai produksinya.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan inflasi, terutama jika pelemahan rupiah berlangsung dalam periode yang cukup panjang.
Faris menilai tidak akan mengejutkan apabila data inflasi pada kuartal II-2026 menunjukkan kenaikan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Meningkatnya inflasi berisiko mengurangi daya beli masyarakat karena pendapatan tidak serta-merta bertambah secepat kenaikan harga barang dan jasa.
Akibatnya, kemampuan konsumsi rumah tangga dapat tertekan, terutama bagi kelompok masyarakat yang sebagian besar pengeluarannya untuk kebutuhan pokok.
Investor masih memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk memperbaiki keadaan, namun pasar menunggu keselarasan yang lebih kuat antara komunikasi dan kebijakan pemerintah.
Salah satu sumber kekhawatiran investor dalam beberapa bulan terakhir bukan semata-mata kondisi ekonomi, melainkan bagaimana program dan kebijakan pemerintah dikomunikasikan kepada publik dan pelaku pasar.
Selama sekitar enam bulan terakhir, pasar menilai pemerintah belum mampu menyampaikan arah kebijakan secara konsisten dan mudah dipahami, sehingga memunculkan ketidakpastian yang dapat dihindari.
Yang paling dibutuhkan saat ini adalah perbaikan komunikasi kebijakan dan koordinasi yang lebih jelas antara otoritas.
Jika pemerintah mampu menunjukkan arah kebijakan yang konsisten dan sejalan, kepercayaan investor berpotensi kembali pulih.
>>> Mendagri Larang Pemda Rekrut Tenaga Honorer Administrasi Baru
Sebaliknya, jika ketidakpastian komunikasi terus berlanjut, pasar cenderung akan tetap bersikap hati-hati dan mempertahankan premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia.