Akibatnya, saham yang awalnya dinilai murah bisa berubah menjadi lebih mahal. Hal tersebut mendorong pasar untuk melakukan penyesuaian harga secara menyeluruh.
"Suku bunga yang lebih tinggi otomatis menaikkan tingkat diskonto dalam perhitungan wajar saham, yang efeknya bisa membuat valuasi saham di BEI cenderung menyusut atau terlihat lebih ketat," lanjut dia.
Ruang kenaikan harga saham menjadi lebih terbatas dibandingkan saat era suku bunga rendah. Situasi ini memaksa investor bertindak lebih selektif dalam menyusun portofolio mereka.
Fokus pasar akan bergeser ke perusahaan dengan fundamental kokoh, arus kas sehat, dan tingkat utang rendah. Investor cenderung menghindari emiten yang sensitif terhadap beban bunga tinggi.
>>> Dokter Ungkap Angin Duduk Bukan Masuk Angin Biasa, Ini Risiko Jantungnya
"Kondisi ini akan membuat investor menjadi jauh lebih selektif dalam memilih saham, di mana mereka akan lebih menghindari emiten yang sensitif terhadap beban bunga tinggi," kata dia.
Sektor Terdampak
Peta dampak kenaikan suku bunga acuan ini terlihat cukup jelas pada beberapa sektor di pasar saham.
Sektor perbankan menjadi pihak yang paling diuntungkan, sementara sektor properti berisiko menghadapi tekanan berat.
Sektor perbankan berpeluang mempertebal margin keuntungan lewat kenaikan Net Interest Margin (NIM). Kinerja keuangan bank-bank besar yang menjadi penopang bursa saham diprediksi akan semakin kuat.
"Petanya akan terbagi cukup jelas.
Sektor yang paling diuntungkan tentu saja perbankan alias banking, karena kenaikan suku bunga ini berpeluang besar mendongkrak Net Interest Margin mereka," tutur Faris.
Perbankan memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan bunga kredit lebih cepat ketimbang bunga simpanan. Hal ini membuat selisih pendapatan bunga yang diperoleh menjadi lebih besar.
Sebaliknya, industri properti paling rentan terkena dampak negatif akibat ketergantungan yang tinggi pada fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Biaya cicilan yang membengkak berpotensi menurunkan minat beli masyarakat.
"Sebaliknya, sektor yang paling terdampak negatif adalah properti.
Kita tahu mayoritas pembelian properti di Indonesia itu bergantung pada KPR, jadi kalau suku bunga naik, risiko beban bunga masyarakat membengkak dan bisa menahan minat beli," ucapnya.