Harga avtur diperkirakan meningkat menjadi 152 dollar AS per barrel dari sebelumnya 90 dollar AS per barrel.
Akibatnya, porsi biaya avtur terhadap total pengeluaran operasional maskapai meningkat menjadi 31,4 persen dari 25,4 persen.
Perubahan harga bahan bakar yang mendadak lebih sulit dihadapi maskapai dibandingkan harga tinggi yang berlangsung jangka panjang. Maskapai membutuhkan waktu untuk menyesuaikan tarif dan strategi operasionalnya.
>>> BI Rate Naik ke 5,50%, Sektor Usaha Pasar Modal Hadapi Risiko Finansial
Bagi maskapai Asia yang banyak mengoperasikan rute jarak jauh, kenaikan harga avtur memberikan tekanan ganda.
Selain biaya bahan bakar, beberapa rute harus menempuh jalur yang lebih panjang akibat penutupan ruang udara dan pertimbangan keamanan.
Permintaan Perjalanan Tetap Menjadi Penopang
Di tengah tekanan biaya, permintaan perjalanan udara masih menjadi faktor penyangga industri penerbangan Asia. IATA mencatat pendapatan industri tetap tumbuh karena permintaan penumpang dan kargo udara masih kuat.
CEO Airbus, Guillaume Faury, menyatakan bahwa pihak maskapai masih mempertahankan komitmen pembelian pesawat karena melihat permintaan jangka panjang tetap kuat.
Kawasan Asia selama bertahun-tahun menjadi pasar pertumbuhan utama bagi produsen pesawat dunia.
Banyak maskapai Asia masih memiliki rencana ekspansi armada untuk memenuhi pertumbuhan kelas menengah dan peningkatan mobilitas masyarakat.
Maskapai Berbiaya Rendah Paling Rentan
Tekanan biaya yang meningkat diperkirakan tidak dirasakan secara merata. Maskapai berbiaya rendah atau low-cost carrier (LCC) menjadi kelompok yang paling rentan.
Lonjakan harga avtur berpotensi memicu kebangkrutan dan konsolidasi industri.
Maskapai LCC memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menyerap kenaikan biaya karena bergantung pada tarif murah dan volume penumpang yang besar.
Laporan IATA juga menunjukkan sejumlah maskapai mulai mempertimbangkan pengurangan kapasitas dan penyesuaian rute. Beberapa memilih mengurangi penerbangan tidak menguntungkan dan mempertahankan tarif tinggi.
Bagi Asia, kondisi ini menjadi perhatian karena kawasan ini merupakan rumah bagi banyak maskapai berbiaya rendah terbesar di dunia.
Tantangan Tambahan: Keterlambatan Pengiriman Armada
Keterlambatan pengiriman pesawat dan mesin dari produsen besar seperti Boeing dan Airbus masih menjadi hambatan signifikan. Akibatnya, banyak maskapai terpaksa mengoperasikan armada yang lebih tua dan kurang efisien.
Keterlambatan pengiriman pesawat menimbulkan kerugian bagi industri dan masih berlanjut hingga 2026.
Bagi maskapai Asia yang memperluas jaringan, ini berarti biaya operasional lebih tinggi karena penggunaan pesawat lama yang lebih boros bahan bakar.
Potensi Kenaikan Harga Tiket
Tekanan biaya yang dialami maskapai berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga tiket. IATA memperingatkan lonjakan biaya bahan bakar menambah beban industri hingga sekitar 100 miliar dollar AS.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan tarif dinilai sulit dihindari. Banyak penumpang kemungkinan harus menghadapi tiket yang lebih mahal sebagai konsekuensi kenaikan biaya operasional.
>>> Harga Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram, Buyback Turun Rp40 Ribu
Meskipun demikian, permintaan perjalanan udara global yang kuat tetap menjadi penopang utama industri penerbangan Asia, yang masih melihat peluang pertumbuhan jangka panjang di tengah berbagai tekanan.