"Saat ini masyarakat sudah terbiasa menggunakan QRIS, kartu debit lintas bank, dompet digital, hingga pembelian tiket secara online.
Karena itu, tidak ada alasan layanan publik membatasi pilihan pembayaran yang justru berpotensi menyulitkan pengunjung," papar Kent.
Kent membandingkan sistem pembayaran di Ragunan dengan kawasan wisata Ancol. Menurutnya, Ancol telah menyediakan berbagai pilihan transaksi bagi pengunjung.
Ia mendorong Pemprov DKI Jakarta dan pengelola Ragunan untuk segera menghadirkan sistem pembayaran yang lebih modern, terintegrasi, dan mudah diakses.
"Saya akan meminta penjelasan dari pengelola maupun dinas terkait mengenai sistem pembayaran yang berlaku saat ini, termasuk mekanisme pengelolaan dan pencatatan seluruh penerimaan yang masuk.
Jangan sampai masyarakat dirugikan oleh sistem yang kurang fleksibel, sementara di sisi lain Pemprov DKI Jakarta berpotensi kehilangan pendapatan akibat tata kelola yang tidak optimal," tegasnya.
Kent menambahkan, sebagai salah satu destinasi wisata favorit warga Jakarta, Ragunan harus mengedepankan prinsip pelayanan publik yang mudah, transparan, dan akuntabel.
"Pelayanan publik harus memudahkan, bukan mempersulit.
>>> Thailand Pastikan Tiket Final Piala AFF U-19 2026 Usai Bantai Kamboja 4-0
Jangan sampai niat baik digitalisasi justru menghasilkan sistem yang membingungkan masyarakat dan menyisakan celah penyimpangan dalam pengelolaan pendapatan daerah," tutupnya.