⌂ Beranda News Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan

Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan

Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan
Grafik IHSG anjlok
A A Ukuran Teks16px

Mereka cukup memindahkan uangnya, dan biarkan angka yang berbicara.

Ada pula soal kecil yang sering dianggap sepele: konsistensi antarpejabat. Hari ini satu kementerian bicara penguatan peran negara, besok kementerian lain bicara keterbukaan pada swasta.

Bagi pembaca laporan riset di Singapura atau London, dua pesan itu tidak saling melengkapi, mereka saling membatalkan.

Pengalaman investor di negara lain ikut membentuk cara mereka membaca Indonesia.

Mereka pernah melihat negara yang mulai dengan satu badan penyangga komoditas dan berakhir dengan kontrol harga di mana-mana.

Indonesia belum tentu menuju ke sana, tetapi di pasar keuangan, "belum tentu" saja sudah cukup mahal harganya.

Faktor Eksternal dan Risiko Ekspropriasi

Sementara itu, dunia di luar sedang tidak ramah. Suku bunga Amerika masih tinggi, dan setiap kali dolar menguat, modal global pulang kampung ke sana.

Perang dagang dan konflik di Timur Tengah menambah daftar alasan untuk tidak berlama-lama di pasar yang sedang dipertanyakan arahnya.

Dunia juga sedang terbelah menjadi blok-blok yang saling curiga. Modal kini memilih tempat berdasarkan keamanan politik, bukan sekadar imbal hasil.

Indonesia sebenarnya dirayu banyak pihak, sayangnya rayuan itu datang justru ketika kita sedang sibuk membuat investor bertanya-tanya.

Konsep expropriation risk relevan di sini: kekhawatiran pemodal bahwa hak miliknya bisa diambil alih penguasa sewaktu-waktu. Riset Boutchkova dkk.

(2024) di Journal of Corporate Finance menemukan bahwa biaya modal justru turun di negara yang kekuasaannya dibatasi oleh lembaga yang kredibel.

Artinya, investor tidak takut pada negara yang kuat, tetapi pada negara yang tidak punya rem.

Rem itu bukan pidato, melainkan lembaga yang dibiarkan bekerja tanpa diintervensi. Di titik inilah pemerintah layak dikritik, bukan karena niatnya, melainkan karena caranya.

Setiap kegaduhan pasar dijawab dengan bantahan, bukan penjelasan. Padahal yang ditunggu investor bukan pembelaan diri, melainkan kepastian aturan main.

Lihat saja pola komunikasinya beberapa bulan terakhir. Rupiah melemah, dijawab dengan fundamental kuat.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru