⌂ Beranda News Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan

Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan

Rupiah Tembus Rp 18.000, Frasa 'Sell Indonesia' Mulai Bermunculan
Grafik IHSG anjlok
A A Ukuran Teks16px

Modal keluar, dijawab dengan analisis asing tidak paham Indonesia, seolah miliaran dolar itu pergi karena salah baca data.

Komunikasi semacam ini punya ongkos. Satu pernyataan ambigu dari pejabat kini bisa menggerakkan kurs dalam hitungan jam.

Pasar yang sehat biasanya memaafkan salah ucap, dan pasar yang sedang kehilangan kepercayaan menghukum setiap keraguan.

Namun, narasi "Sell Indonesia" juga tidak bersih dari bumbu. Laporan-laporan itu ditulis seakan Indonesia satu-satunya pasar yang ditinggalkan modal asing.

Padahal, hampir semua negara berkembang sedang mengalami tarikan yang sama akibat dolar yang kuat.

Fundamental yang disebut pemerintah juga bukan isapan jempol. Sektor keuangan masih stabil, perbankan terjaga, dan konsumsi rumah tangga tetap berjalan.

>>> Real Madrid Sepakati Transfer Marc Cucurella dari Chelsea

Orang masih belanja, pabrik masih berproduksi, kredit masih tumbuh. Ada jarak yang lebar antara layar Bloomberg dan warung kopi di Jawa Tengah.

Di layar, Indonesia terlihat seperti pasien gawat darurat. Di warung kopi, hidup berjalan seperti biasa, dan dua-duanya sama-sama nyata.

Yang perlu diwaspadai justru jika jarak itu menyempit.

Pelemahan rupiah lama-lama merambat ke harga barang impor, ke ongkos produksi, lalu ke harga di warung itu tadi.

Maskapai penerbangan kita, misalnya, menanggung sekitar 70 persen biaya operasinya dalam dolar, dan mereka tidak bisa menunggu sentimen membaik.

Indonesia juga bukan pasar kemarin sore. Ada hampir 280 juta penduduk di sini, dengan kelas menengah yang terus membesar.

Pengelola dana global tahu persis angka ini, sebab angka yang sama mereka pakai dalam proposal saat dulu merayu nasabahnya masuk ke Indonesia.

Bahkan di dalam negeri, kepanikan itu tidak merata. Telkom berencana membeli kembali sahamnya senilai Rp 4 triliun karena menilai harganya sudah tidak masuk akal.

Mereka yang paling tahu isi rumah ini justru sedang belanja, bukan ikut keluar.

Sejarah pun memberi konteks yang menenangkan. Krisis 1998 dan guncangan 2008 dulu juga melahirkan ramalan-ramalan kejatuhan Indonesia.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru