>>> Erling Haaland Antusias Sambut Persaingan Grup I Piala Dunia 2026
Karakteristik kelas menengah Indonesia tergolong rentan karena mayoritas berada di batas bawah. Faktor PHK, lonjakan biaya pendidikan, dan beban cicilan mudah menggeser posisi finansial mereka.
Wisnu menambahkan bahwa ketersediaan lapangan kerja didominasi sektor informal dan ekonomi gig. "Pekerjaan seperti ini jarang menyediakan stabilitas pendapatan, jaminan sosial, atau jalur karier yang jelas," katanya.
Bank Dunia melihat kesenjangan antara ekspansi ekonomi dengan penciptaan kerja berupah layak.
"Ekonomi menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak cukup pekerjaan produktif dan bergaji tinggi untuk mempertahankan mobilitas sosial," ungkap Bank Dunia.
Tantangan daya beli kian berat akibat tekanan eksternal dan volatilitas pasar keuangan.
Pasar modal terguncang sentimen pembekuan sekuritas oleh MSCI serta pemotongan prospek peringkat utah oleh Moody's dan Fitch.
Konflik Timur Tengah mengerek minyak Brent melewati 100 dollar AS per barel pada Maret 2026.
Tekanan geopolitik berimbas pada depresiasi rupiah hingga Rp 18.000 per dollar AS pada awal Juni.
Inflasi pangan bertengger di angka 4,9 persen. "Upah riil kelas menengah bawah relatif stagnan, sementara biaya perumahan, pendidikan, dan transportasi terus meningkat.
Ini tekanan senyap income squeeze," ujar Wisnu.
Langkah taktis pemerintah dengan insentif pajak penerbangan dan menahan harga BBM bersubsidi berhasil menstabilkan daya beli jangka pendek.
>>> Pengguna Internet Indonesia Tembus 235 Juta Jiwa pada 2026
Namun, Bank Dunia mengingatkan konsekuensi fiskal yang membatasi ruang belanja pembangunan strategis di masa mendatang.