Beijing kini memimpin kekuatan laut terbesar global secara kuantitas dengan total 400 armada kapal perang yang mulai merambah ke Samudra Hindia.
"Kita telah melihat meningkatnya kehadiran angkatan laut China di Samudra Hindia, yang semakin menjadi medan yang diperebutkan, tetapi juga berkembangnya kapabilitas angkatan laut Pakistan," kata Shairee Malhotra.
Pakistan sendiri giat memodernisasi armada bawah laut lewat sokongan penuh dari China.
Pada 2015, Islamabad menyepakati kontrak senilai 5 miliar dolar AS atau Rp90 triliun untuk mendatangkan delapan kapal selam canggih kelas Hangor yang berbasis pada Type 039 Yuan class milik China yang juga dibekali sistem AIP.
Pakistan menyerap hampir 80 persen kebutuhan militernya dari China, di mana kemitraan erat ini secara langsung mengubah peta kekuatan di Asia Selatan.
Gesekan bersenjata sempat pecah selama empat hari pada Mei 2025 antara India dan Pakistan, di samping konflik perbatasan Himalaya yang kerap terjadi dengan China.
Diversifikasi Mitra dan Kontrak Rusia
Tekanan geopolitik mendorong India berpaling ke negara Barat demi mencari alternatif pasokan militer, setelah sejak era 1960-an sangat bertumpu pada Uni Soviet dan Rusia untuk penyediaan kapal perang, jet tempur, serta kendaraan taktis.
Dalam satu dekade terakhir, New Delhi aktif merangkul Prancis, Israel, hingga Amerika Serikat. Kini, Jerman turut masuk ke dalam lingkaran kemitraan tersebut demi mengamankan pengaruh di Indo-Pasifik.
"Kesepakatan ini penting secara komersial bagi Jerman. Tetapi geopolitik jelas menjadi bingkainya," kata Nina Haase, Chief Political Correspondent DW.
Nina Haase, yang mendampingi kunjungan Boris Pistorius ke India pada 2023, menilai Berlin berkomitmen menanam investasi politik jangka panjang demi tatanan maritim berbasis aturan sekaligus menekan dominasi produk Rusia.
"India semakin dipandang di Berlin sebagai kekuatan penstabil di Indo-Pasifik," kata Nina Haase.
Meskipun demikian, Shairee Malhotra mengingatkan bahwa langkah ini bukanlah sinyal pemutusan hubungan total dengan Moskow.
"India sedang melakukan hedging, bukan sepenuhnya menggantikan Rusia," katanya.