Ia menambahkan, diversifikasi sumber energi dan jalur pasokan kini menjadi prioritas utama.
"Diversifikasi sumber energi dan jalur pasokan kini menjadi prioritas utama, dengan penerapan berbagai bahan bakar dan teknologi, elektrifikasi, dan efisiensi sebagai pengungkit penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan.
Kerja sama regional yang lebih kuat juga akan memberikan manfaat besar," ujarnya.
Menurut Birol, IEA akan terus memberikan dukungan bagi negara-negara Asia Tenggara.
"IEA, yang meluncurkan Pusat Kerja Sama Regional pertamanya di Singapura tahun lalu, akan terus mendukung negara-negara di seluruh kawasan saat mereka menyesuaikan strategi mereka – dengan pembuatan kebijakan yang cermat dan seimbang sebagai kunci untuk meningkatkan keamanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi," kata dia.
Preferensi terhadap sumber energi domestik mulai menguat di Asia Tenggara, meski pilihan strategi setiap negara berbeda. Sebagian negara memilih mengembangkan cadangan minyak dan gas domestik yang belum dimanfaatkan.
>>> Aliansi Masyarakat Jakarta Timur Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Namun, IEA melihat arus investasi lebih besar mengarah pada pilihan energi lain.
Dalam skenario kebijakan saat ini, kapasitas pembangkit energi terbarukan diperkirakan hampir tiga kali lipat dalam satu dekade ke depan.
Tanda percepatan mulai terlihat pada energi surya.
Filipina menjadi tujuan terbesar kedua ekspor panel surya asal China pada kuartal I 2026 dengan nilai impor tiga kali lipat dibanding periode sama tahun lalu.
Di sisi lain, batu bara yang memegang peranan besar juga berpotensi memperoleh dukungan tambahan demi ketahanan energi. Sementara itu, energi nuklir dipandang sebagai opsi diversifikasi jangka panjang.
Listrik diperkirakan akan menjadi pusat sistem energi Asia Tenggara pada masa depan.
IEA mencatat pertumbuhan permintaan listrik saat ini mencapai dua kali lipat lebih cepat dibanding konsumsi energi keseluruhan.
Hingga 2050, kebutuhan listrik diperkirakan terus meningkat.
Dalam satu dekade ke depan, tambahan kebutuhan listrik di Asia Tenggara diproyeksikan setara dengan total produksi listrik Jepang saat ini.