⌂ Beranda News Pengangguran Muda Masih Tinggi Meski Pasar Kerja Membaik

Pengangguran Muda Masih Tinggi Meski Pasar Kerja Membaik

Pengangguran Muda Masih Tinggi Meski Pasar Kerja Membaik
Ilustrasi pengangguran muda di Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Sebaliknya, lulusan tinggi terbentur ketidaksesuaian jurusan dengan kebutuhan industri dan ekspektasi upah tinggi.

Data BPS Februari 2026 menunjukkan TPT lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 mencapai 6,13 persen.

>>> BPJS Kesehatan: Penyesuaian Iuran Perlu Dipertimbangkan dalam Perpres Baru

Angka ini lebih tinggi dari lulusan SD ke bawah yang hanya 2,32 persen.

Tingkat pengangguran tertinggi di sektor pendidikan masih dipegang lulusan SMK, yaitu 7,74 persen.

LPEM FEB UI mencatat lulusan sarjana hingga doktoral generasi 1990-2000 butuh waktu tunggu 18,28 bulan, lebih lama dari lulusan diploma yang 15,25 bulan.

Masa tunggu lulusan diploma bahkan naik menjadi 18,29 bulan pada generasi pekerja 2011-2025.

Kendala Pengalaman dan Ketidaksesuaian Jurusan

Minimnya pengalaman kerja menjadi hambatan utama bagi pencari kerja muda. Pencari kerja dengan rekam jejak, sertifikat pelatihan, atau keahlian teknis khusus lebih cepat memperoleh posisi.

Ketiadaan pengalaman pada lulusan baru memperpanjang masa tunggu dan meningkatkan angka pengangguran muda. Tantangan ini diperparah oleh ketidaksesuaian antara jurusan pendidikan dan bidang pekerjaan.

Pekerja yang tidak sesuai bidang studi memiliki masa pencarian rata-rata 17,07 bulan, lebih lama dibanding yang linier.

Meski selisihnya mengecil pada generasi muda, penyelarasan kompetensi dan kebutuhan industri masih belum optimal.

Ketimpangan Wilayah dan Ekspektasi Gaji

Lokasi geografis turut memengaruhi durasi tunggu kerja. LPEM FEB UI mengidentifikasi pencari kerja di luar Jawa membutuhkan waktu transisi lebih panjang daripada di Jawa.

Keterbatasan lapangan kerja formal, minimnya akses informasi, dan pemusatan ekonomi di Jawa memicu ketidakefisienan pasar kerja di luar Jawa.

Kondisi serupa terjadi antara perkotaan dan perdesaan.

Pencari kerja di desa mengalami masa tunggu lebih lama karena minimnya diversifikasi sektor ekonomi. Kelompok non-Jawa perdesaan mencatat waktu transisi paling panjang, sedangkan Jawa perkotaan tercepat.

Faktor ekspektasi upah juga berperan. Individu dengan target gaji tinggi cenderung lebih selektif dan butuh waktu lebih lama.

>>> Dishub Jaksel Amankan Empat Juru Parkir Liar di Blok M Square

Sebaliknya, pencari kerja yang mendesak secara ekonomi akan menerima pekerjaan lebih cepat.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru