⌂ Beranda News Pemilu Bukan Sekadar Perhelatan, Melainkan Sebuah Proses Demokrasi

Pemilu Bukan Sekadar Perhelatan, Melainkan Sebuah Proses Demokrasi

Pemilu Bukan Sekadar Perhelatan, Melainkan Sebuah Proses Demokrasi
Ilustrasi pemilu sebagai proses demokrasi
A A Ukuran Teks16px

Bagi partai dan politisi, suara rakyat adalah akumulasi kuasa. Makin tinggi perolehan suara, makin besar peluang meraih kuasa.

Bagi penyelenggara, angka partisipasi pemilih di TPS adalah kinerja. Makin tinggi partisipasi, makin baik penyelenggara bekerja.

Paradigma Integrasi dan Interkoneksi

Pemilu harus dimaknai sebagai syarat untuk mencapai aspek substansi demokrasi yang harus dibebaskan dari belenggu paradigma prosedural dan menjadi titik langkah proses substantif.

Paradigma ini mengandaikan kerja-kerja seluruh entitas yang terlibat di dalam pemilu tidak hanya terhenti pada saat pemilu digelar.

>>> Meta Kesulitan Monetisasi Investasi AI Ratusan Triliun

Mereka tidak melihat suara pemilih sebagai angka untuk meraih kuasa dan nilai kinerja, melainkan harapan rakyat yang harus dirawat terus-menerus dalam langgam demokrasi.

Keberjarakan partai politik dan politisi dengan pemilih (rakyat) diakibatkan cara pandang melihat pemilu hanya sebatas prosedur meraih kuasa di TPS.

Sisi lain, kerja-kerja penyelenggara pun terkubang pada ranah formal sebagai penyelenggara.

Seolah tidak memiliki keterikatan dan tanggung jawab dengan entitas eksekutif dan legislatif hasil pemilu yang notabene sebagai buah kerjanya.

Setelah pemilu usai, relasi mereka seolah terputus yang kembali akan dirajut nanti menjelang pemilu mendatang.

Hal ini yang mengakibatkan pemilu hanya aspek prosedur yang tidak dapat meraih substansi.

Idealnya relasi trias elektorat (peserta, penyelenggara, dan pemilih) tidak hanya terjadi pada saat pemilu, apalagi hanya di TPS saja.

Tetapi seluruh rangkaian tahapan dan setelah tahapan pemilu, elemen trias elektorat ini harus terus terkoneksi secara simultan.

Karenanya, diperlukan paradigma integrasi dan interkoneksi dalam melihat pemilu, sebagaimana disadur dari pemikiran Amin Abdullah (2007).

Pemilu tidak melulu tentang pemilihan suara di TPS dan bahkan tahapan pemilu an sich, melainkan seluruh rangkaian periodik lima tahun harus dimaknai sebagai bagian dari ekosistem dan semesta pemilu.

Pada konteks ini, pemilu menjadi siklus kontinuatif, yakni aktivitas siklus tahapan yang terus-menerus dari pemungutan suara sampai kembali ke pemungutan suara lima tahun mendatang tanpa henti.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru