Pelemahan cadangan devisa berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.
Selain itu, pasar masih dibayangi implementasi rebalancing FTSE Russell yang berlaku efektif pada 22 Juni 2026. Tekanan jual yang berkaitan dengan penyesuaian indeks tersebut belum sepenuhnya selesai.
Di tengah berbagai tekanan, IPOT menilai investor perlu lebih berhati-hati. Hari mengatakan secara fundamental IHSG masih menghadapi tekanan berat memasuki pekan 8-12 Juni 2026.
"Kombinasi inflasi Mei yang melampaui ekspektasi (3,08 persen yoy), Rupiah yang telah menembus Rp18.000, dan total net foreign sell year to date yang telah mencapai Rp 60,8 triliun mencerminkan erosi kepercayaan investor yang sistemik," tuturnya.
Menurut dia, momentum bearish masih mendominasi dan struktur tren penurunan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah. Strategi yang dinilai paling bijaksana adalah mengutamakan perlindungan modal.
"Strategi yang paling prudent bagi investor adalah defense first, prioritaskan preservasi modal dengan mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah," kata Hari.
Investor juga disarankan menghindari averaging down secara agresif sebelum ada konfirmasi stabilisasi rupiah dan sinyal bottoming yang jelas.
Averaging down adalah strategi membeli saham yang sama ketika harga turun untuk menurunkan harga rata-rata pembelian.
Meski demikian, IPOT melihat peluang pada saham big caps.
Menurut Hari, investor jangka menengah dapat mencermati saham di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah atraktif secara historis.
"Masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI," terang dia.
>>> Suzuki Jimny Terbaru Hadir di Malaysia dengan Fitur ADAS
Pendekatan bertahap dinilai lebih sesuai dengan kondisi pasar yang belum menunjukkan arah pemulihan kuat.