Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto menyebutkan bahwa sektornya mengalami tekanan ganda akibat kenaikan harga gas bumi dan kewajiban membayar energi menggunakan dolar AS pada Kamis (5/6/2026).
"Jadi satu, harga gas naik ini kami terpukul, kedua kami membayar gas dengan menggunakan US Dollar. Jadi kita bisa bayangkan ini dua impact," ujar Edy.
Sementara itu, penurunan nilai mata uang nasional turut menyulitkan pelaku usaha dalam mendapatkan proteksi finansial karena ketidakpastian pasar yang tinggi.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Azis Pane memaparkan bahwa industri ban nasional saat ini ikut terimbas oleh lonjakan harga bahan baku berbasis fosil imbas konflik Timur Tengah.
"Mau di-hedging, enggak mau lagi lembaga hedging. Karena enggak jelas," kata Azis kepada Kontan beberapa waktu lalu.
Ketergantungan terhadap bahan baku impor seperti mono ethylene glycol (MEG) dan paraxylene (PX) juga membuat industri hulu tekstil tidak luput dari dampak negatif pelemahan rupiah.
>>> Prabowo Dorong Penambahan Kapasitas Sekolah Rakyat di Bali
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi mendesak pemerintah dan Bank Indonesia untuk segera mengambil tindakan konkret demi menjaga stabilitas nilai tukar.