⌂ Beranda News Kenaikan Pertamax Rp16.250 per Liter: Tekanan Baru bagi Kelas Menengah

Kenaikan Pertamax Rp16.250 per Liter: Tekanan Baru bagi Kelas Menengah

Kenaikan Pertamax Rp16.250 per Liter: Tekanan Baru bagi Kelas Menengah
Ilustrasi kenaikan harga Pertamax dan dampaknya pada kelas menengah
A A Ukuran Teks16px

Menurut klasifikasi BPS, sebagian besar berada di lapisan bawah rentang pengeluaran Rp2 juta hingga Rp10 juta per kapita per bulan.

Mereka tidak miskin, tetapi juga tidak cukup kaya untuk menahan guncangan.

Kenaikan biaya hidup menggerus tabungan dan kemampuan investasi. Dalam jangka panjang, kelompok ini berisiko turun menjadi aspiring middle class.

Penyusutan kelas menengah juga memperlebar ketimpangan. Kelompok kaya tetap bertahan, kelompok miskin mendapat bantuan, sementara kelas menengah terjepit di tengah.

Aspek psikologis juga penting. Kekhawatiran akan masa depan membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam belanja, menunda investasi, dan meningkatkan tabungan darurat.

Kepercayaan yang menurun berdampak pada konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah perlu mengambil langkah strategis. Pertama, memperkuat penciptaan lapangan kerja produktif dengan pendapatan yang tumbuh.

Kedua, mempercepat pembangunan transportasi publik yang murah dan terintegrasi.

Ketiga, menjaga inflasi tetap terkendali, terutama melalui stabilisasi pasokan pangan dan biaya logistik. Keempat, memperkuat perlindungan sosial bagi kelas menengah, seperti insentif pajak dan dukungan pendidikan.

Kelima, meningkatkan literasi keuangan agar rumah tangga memiliki dana darurat dan perencanaan yang baik.

Kenaikan Pertamax bukan sekadar soal harga BBM. Ini adalah cermin kondisi kelas menengah Indonesia.

>>> Reno Salampessy Jadi Motor Serangan Timnas U19 Indonesia di ASEAN Championship 2026

Jika terus tergerus, cita-cita menjadi negara maju pada 2045 akan sulit tercapai. Sebaliknya, dengan kebijakan yang tepat, kelas menengah dapat kembali menjadi motor pembangunan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru