⌂ Beranda News Dilema Kenaikan Harga BBM: Antara Stabilitas Fiskal dan Produktivitas Ekonomi

Dilema Kenaikan Harga BBM: Antara Stabilitas Fiskal dan Produktivitas Ekonomi

Dilema Kenaikan Harga BBM: Antara Stabilitas Fiskal dan Produktivitas Ekonomi
Ilustrasi kenaikan harga BBM dan dampaknya terhadap ekonomi Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Dalam teori ekonomi publik, pemerintah pada dasarnya menghadapi tiga pilihan ketika harga energi global meningkat tajam: menaikkan harga domestik, memperbesar subsidi, atau membiarkan defisit fiskal melebar.

Masing-masing pilihan memiliki konsekuensi.

Menaikkan harga berpotensi menekan konsumsi masyarakat. Memperbesar subsidi akan mengurangi ruang fiskal yang seharusnya dapat digunakan untuk investasi produktif.

Sementara defisit yang membesar dapat mengurangi kepercayaan investor dan meningkatkan biaya pembiayaan negara.

Joseph Stiglitz menyebut situasi ini sebagai policy trade-off, yaitu kondisi ketika tidak ada pilihan kebijakan yang sepenuhnya bebas biaya.

Pemerintah hanya dapat memilih kombinasi kebijakan yang memberikan manfaat jangka panjang lebih besar dibandingkan biaya yang harus ditanggung.

Dalam konteks tersebut, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan fiskal sekaligus mempertahankan kredibilitas kebijakan ekonomi di mata pasar.

Namun, keberhasilan kebijakan tidak boleh diukur hanya dari besarnya penghematan anggaran yang diperoleh.

Multiplier Effect yang Sering Terlupakan

Kenaikan harga BBM memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar bertambahnya biaya pengisian bahan bakar kendaraan.

Dalam kerangka yang dikembangkan Albert Hirschman, energi memiliki keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan keterkaitan ke depan (forward linkage) yang sangat kuat terhadap aktivitas ekonomi lainnya.

Karena itu, perubahan harga energi akan menghasilkan efek rambatan yang menyebar ke berbagai sektor. Putaran pertama muncul melalui kenaikan biaya transportasi dan logistik.

Putaran kedua terjadi ketika produsen mulai menyesuaikan harga barang dan jasa untuk mempertahankan keberlangsungan usaha.

>>> New York Knicks Tekuk San Antonio Spurs Lewat Poin Penentu OG Anunoby

Namun, dampak terbesar justru muncul pada putaran ketiga melalui mekanisme multiplier effect terhadap konsumsi rumah tangga dan sektor riil.

Menurut data Badan Pusat Statistik, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

Ketika biaya energi meningkat, sebagian rumah tangga akan mengurangi pengeluaran untuk konsumsi nonprimer.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru