Membenahi Struktur Ekonomi Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, CORE menilai penguatan rupiah tidak akan berkelanjutan tanpa pembenahan struktur neraca pembayaran Indonesia.
Prioritas pertama adalah transformasi struktur ekspor agar tidak terlalu bergantung pada komoditas primer.
Menurut CORE, ketergantungan pada komoditas membuat penerimaan devisa sangat bergantung pada fluktuasi harga global sehingga surplus perdagangan sulit menjadi penyangga nilai tukar yang stabil.
Prioritas kedua adalah mengurangi defisit pendapatan primer yang selama ini terus terjadi akibat besarnya arus keluar dividen dan pembayaran bunga kepada investor asing.
CORE menilai kondisi ini membuat setiap peningkatan investasi asing pada akhirnya juga diikuti peningkatan kewajiban pembayaran ke luar negeri.
Selanjutnya, pasar keuangan domestik perlu diperdalam agar ketergantungan terhadap modal portofolio asing yang mudah keluar masuk dapat berkurang.
Penguatan investor institusi domestik, pendalaman pasar obligasi dan ekuitas rupiah, serta pengembangan instrumen lindung nilai dinilai menjadi bagian penting dari agenda tersebut.
CORE juga menilai investasi asing perlu lebih diarahkan ke sektor-sektor berorientasi ekspor dan terintegrasi dalam rantai nilai global, bukan hanya menyasar pasar domestik.
Di saat yang sama, defisit jasa seperti transportasi dan penggunaan kekayaan intelektual juga perlu ditekan melalui penguatan industri jasa nasional.
Menurut CORE, stabilitas rupiah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kebijakan suku bunga, melainkan oleh kemampuan pemerintah dan otoritas menjaga keseimbangan antara pasokan devisa, kredibilitas kebijakan, dan daya tahan sektor eksternal.
>>> Meksiko Jalin Kedekatan Budaya dan Pariwisata dengan Bali sejak 1930
"Stabilitas rupiah pada akhirnya ditentukan oleh keselarasan antara pasokan valas, kepercayaan pada arah kebijakan, dan kekuatan daya tahan sektor eksternal," ungkap lembaga pemikir tersebut.