Tim Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menjelaskan, pihaknya kini memperkirakan ekspor minyak melalui Selat Hormuz akan kembali ke tingkat sebelum perang pada akhir Juli 2026.
Perkiraan ini lebih cepat dibandingkan asumsi sebelumnya pada Agustus.
Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent kuartal IV 2026 sebesar 11 persen, dari 90 dolar AS menjadi 80 dolar AS per barel.
Untuk rata-rata harga 2027, bank tersebut memangkas sekitar 6 persen dari 80 dolar AS menjadi 75 dolar AS per barel.
Citi Paling Pesimistis
Di antara bank-bank besar tersebut, Citi menjadi institusi yang paling pesimistis terhadap prospek harga minyak.
Awal pekan ini, Citi memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal III tahun ini menjadi 75 dolar AS per barel.
Harga tersebut diperkirakan turun lebih lanjut menjadi rata-rata 70 dolar AS per barel pada kuartal IV 2026.
Untuk 2027, Citi memperkirakan harga minyak Brent rata-rata hanya mencapai 65 dolar AS per barel.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang menempatkan harga minyak mentah Brent pada rata-rata 80 dolar AS per barel pada 2027.
>>> Pablo Zabaleta Yakin Lionel Messi Masih Punya Magis di Piala Dunia 2026
Pandangan Citi mencerminkan ekspektasi pemulihan pasokan minyak global akan berlangsung lebih cepat.
Perkembangan harga minyak dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa pentingnya Selat Hormuz bagi pasar energi global.
Patokan internasional Brent pada awal pekan ini turun ke level terendah sejak awal Maret 2026 setelah muncul kabar mengenai kesepakatan damai awal.
Berdasarkan rencana yang diumumkan, kesepakatan tersebut akan ditandatangani di Swiss pada Jumat. Perjanjian itu juga akan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.
Meski prospek pemulihan pasokan semakin kuat, Goldman Sachs menilai masih terdapat sejumlah faktor yang dapat mengubah arah pasar.
Menurut bank tersebut, pemulihan pasokan berpotensi berlangsung lebih cepat dan lebih besar.